Kamis, 03 Februari 2011

Siluet Masa Lalu


Sayup-sayup kudengar sebuah lagu yang sdh tak asing lg di telingaku
Dalam sekejap sebuah siluet masa lalu bermunculan di ingatanku
Seorang wanita pemalu yang bodoh dan bahkan terlalu bodoh di masanya
Tak mampu mencerna warna dunia yang begitu nyata
Terlalu membingungkan untuknya , ia lebih memilih bersembunyi di balik senyumnya. Memaksa  pikirannya  dengan tumpukan tugas besar yang seakan ingin menerkam jika tak diselesaikan tepat waktu.
Ia selalu punya cara menghindar dari sekumpulan orang-orang berhiaskan tawa di wajah mereka.

Tahun pertamanya dibayangi ketakutan akan pembunuh-pembunuh mental yang berkeliaran . Setiap melangkahkan kaki keluar, diperhatikannya ujung kaki hingga kepala,  takut jika tiba-tiba para pembunuh mental itu memakannya  jika ada setitik kesalahan. Ia memilih rumah sebagai tempat  teraman. Mungkin hanya kurang dari sepuluh manusia yang kenal siapa wanita bodoh ini, tapi aku tahu dia. Bahkan sangat mengenalnya.

Akan kuberitahu kau sejauh ingatanku merekamnya.,
Dia mulai menghirup udara kebebasan saat ia mulai dikenal dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Rumahnya tak lagi menjadi tempat mengurung diri. Ia mulai tertawa sebatas rasa malu memadamkan wajahnya. Di mataku ia tetap saja masih wanita bodoh pemalu . Saat kebahagiaan yang begitu aneh mulai merasukinya. Membuat jantungnya berdegup tak menentu. Kepalanya tak mampu mencerna apa yang ia lihat, meski begitu nyata. Dia menawarkan persahabatan. Wanita itu tahu, ia tak lebih dari wanita biasa yang terlalu biasa.

Dijalaninya kehidupan yang ia anggap ‘persahabatan’ karena tak tahu arah haluan. Semakin lama, ia semakin bodoh. Memberi semampu hatinya memberi. Menahan tangis saat tak diberi. Mengusap air mata dari luka yang menggores hati. Yang ada hanya harapan kosong.

Apa kau tahu kawan apa yang terjadi jika kulitmu diterpa pukulan keras bertubi-tubi? Bukankah ia akan mengeras dan kebal?
Begitulah hati wanita. Saat kau telah melukai  hatinya jangan kira kau bisa memulihkannya kembali. Ia  akan sembuh bukan dengan pisau yang telah kau hempaskan. Tapi  dari usapan lembut dari seseorang yang melihatnya bukan  sebagai wanita biasa yang terlalu biasa tetapi wanita yang membawa arti dalam setiap hembusan nafas kehidupanmu.

by: isna086

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment please